Showing posts with label Peninggalan KeRajaan Pajajaran. Show all posts
Showing posts with label Peninggalan KeRajaan Pajajaran. Show all posts

Sunday, 8 September 2013

Naskah Sunda"SangHyang Siksakandang Karesian"

0 comments
Dalam budaya sunda, profesionalisme begitu dijunjung. Dalam setiap garapan ada seorang yang menjadi ahli, biasanya disebut juru.Sanghyang Siksa Kanda ng Karesian, naskah Sunda yang mempunyai Candrasangkala yang berbunyi nora catur sagara wulan, dibuat tahun 1440 Saka /1518 M; atau awal abad ke-16. Naskah ini leboh bersifat sebgai mempunyai isi semacam ensiklopedi masyarakat Sunda, yang di dalamnya memuat berita tentang kreasi budaya masyarakat lama yang berupa jenis-jenis kesenian. Di sanalah berkumpulnya anggota masyarakat yang mempunyai maksud mencari pengetahuan. Dalam hal ini sang Darma Pitutur menye­butkan jenis kesenian dan penggarapnya, yaitu:
  1. seni cerita/wayang, dimainkan oleh memen/ dalang;
  2. seni kawih, dikuasai oleh paraguna;
  3. seni pamaceuh (permainan), dikuasai oleh hempul;
  4. seni pantun, dimainkan oleh prepantun;
  5. seni tulis (lukis), dikuasai oleh lukis;
  6. seni tempa (pande senjata), dikuasai oleh panday;
  7. seni ukir, dikuasai oleh maranggay/maranggi;
  8. seni oolahan (masak), dikuasai oleh hareup catra;
  9. seni boeh (kain batik), dikuasai oleh pangeuyeuk;
Di samping itu ada beberapa lagi keahlian dan sebutan peng­garapnya:
  1. ahli agama dan parigama, dikuasai oleh pratanda;
  2. ahli ilmu prang (berperang), dikuasai oleh sang hulu jurit;
  3. ahli aji mantra, dikuasai oleh sang brahmana;
  4. ahli puja di sanggar, dikuasai oleh ja(ng)gan;
  5. ahli dunuah nalika (menghitung waktu), dikuasai oleh buranyga;
  6. ahli darmasiksa (yang mengetahui tentang kewajiban hidup), dikuasai oleh pandita;
  7. ahli pemerintahan, dikuasai oleh ratu;
  8. ahli ilmu tanah (patitis bumi), dikuasai oleh mangkubumi;
  9. ahli berlayar yang ban,ak tahu tentang pelabuhan, dikuasai oleh puhawang; (dampuawang)
  10. ahli menghitung harga (sawatek arega), dikuasai oleh citrik byapari;
  11. ahli sandi (rasia), tata kadewataan dan kahyangan, dikuasai oleh sang wiku;
ahli yang menguasai bahasa-bahasa (carek para purusa), disebut sang jurubasa darumamurcay

Arti Kata Sunda

0 comments
Kata Sunda
Tidak jarang terjadi sebuah perbincangan yang sangat panjang dan berbelit-belit ketika beberapa orang dalam suatu pertemuan mencari arti atau pengertian dari suatu kata, terlebih apabila kata itu mempunyai ikatan emosional dengan pelaku pembicaraan atau masyarakat pendukungnya. Dalam hal kata Sunda, sampai saat ini masih menjadi satu topik yang menarik untuk diperbincangkan, terutama dalam pertemuan informal, dan merupakan satu contoh kasus yang senantiasa aktual. Hal ini karena kata Sunda di samping menyangkut nama satu kelompok etnis masyarakat yang mendiami sebagian wilayah di Pulau Jawa, juga dipercaya sebagai nama suatu agama (agama Sunda) yang mempunyai nilai sakral.
Menurut Edi S. Ekadjati dalam pidato pengukuhan jabatan guru besarnya yang berjudul Sunda, Nusantara, dan Indonesia Suatu Tinjauan Sejarah (1995:3–4) memaparkan bahwa:
Secara historis, Ptolemaeus, ahli ilmu bumi bangsa Yunani, merupakan orang pertama yang menyebut Sunda sebagai nama tempat. Dalam buku karangannya yang ditulis sekitar tahun 150 Masehi ia menyebutkan bahwa ada tiga pulau yang dinamai Sunda yang terletak di sebelah timur India (Atmamihardja, 1958: 8). Kiranya berdasarkan informasi dari Ptolemaeus inilah, ahli-ahli ilmu bumi Eropa kemudian menggunakan kata Sunda untuk menamai wilayah dan beberapa pulau yang terletak di sebelah timur India. Ahli geologi Belanda R.W. van Bemmelen menjelaskan bahwa Sunda adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menamai suatu daratan bagian barat laut India Timur, sedangkan dataran bagian tenggaranya dinamai Sahul. Dataran Sunda dikelilingi oleh sistem Gunung Sunda yang melingkar (Circum-Sunda Mountain System) yang panjangnya sekitar 7000 km. Dataran Sunda itu terdiri dari dua bagian utama, yaitu (1) bagian utara yang meliputi Kepulauan Filipina dan pulau-pulau karang sepanjang Lautan Pasifik bagian barat dan (2) bagian selatan yang terbentang dari barat ke timur sejak Lembah Brahmaputera di Assam (India) hingga Maluku bagian selatan. Dataran Sunda itu bersambung dengan kawasan sistem Gunung Himalaya di barat dan dataran Sahul di timur (Bemmelen, 1949: 2-3). Selanjutnya, sejumlah pulau yang kemudian terbentuk di dataran Sunda diberi nama dengan menggunakan istilah Sunda pula, yakni Kepulauan Sunda Besar dan Kepulauan Sunda Kecil. Yang dimaksud dengan Kepulauan Sunda Besar ialah himpunan pulau yang berukuran besar yang terdiri atas pulau-pulau: Sumatera, Jawa, Madura, dan Kalimantan. Adapun Kepulauan Sunda Kecil merupakan gugusan pulau-pulau: Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Sumba, Timor (Bemmelen, 1949: 15-16). Namun kemudian istilah Sunda Besar dan Sunda Kecil tidak dipakai lagi dalam percaturan ilmu bumi Indonesia.
Menurut Rouffaer (1905: 16) menyatakan bahwa kata Sunda berasal dari pinjaman kata asing berkebudayaan Hindu, kemungkinan dari akar kata sund atau kata suddha dalam bahasa Sansekerta yang mempunyai pengertian bersinar, terang, putih (Williams, 1872: 1128, Eringa, 1949: 289). Dalam bahasa Jawa Kuno (Kawi) dan bahasa Bali pun terdapat kata sunda, dengan pengertian: bersih, suci, murbi, tak tercela/bernoda, air, tumpukan, pangkat, waspada (Anandakusuma, 1986: 185-186; Mardiwarsito, 1990: 569-570; Winter, 1928: 219).
Menurut Gonda (1973: 345-346), pada mulanya kata suddha dalam bahasa Sansekerta diterapkan pada sebuah gunung yang menjulang tinggi di bagian barat Pulau Jawa yang dari jauh tampak putih bercahaya karena tertutup oleh abu yang berasal dari letusan gunung tersebut. Gunung Sunda itu terletak di sebelah barat Gunung Tangkuban Parahu. Kemudian nama tersebut diterapkan pula pada wilayah tempat gunung itu berada dan penduduknya. Mungkin sekali pemberian nama Sunda bagi wilayah bagian barat Pulau Jawa itu diinspirasi oleh nama sebuah kota dan atau kerajaan di India yang terletak di pesisir barat India antara kota pelabuhan Goa dan Karwar (ENI, IV, 1921: 14-15). Selanjutnya, Sunda dijadikan nama kerajaan di bagian barat Pulau Jawa yang beribukota di Pakuan Pajajaran, sekitar Kota Bogor sekarang. Kerajaan Sunda ini telah diketahui berdiri pada abad ke-7 Masehi dan berakhir pada tahun 1579 Masehi (Danasasmita dkk, 1984: 1-27; Danasasmita dkk, IV, 1984; Djajadininingrat, 1913: 75).
Adapun arti kata sunda secara leksikografis/etimologis, R. Mamun Atmamihardja dalam bukunya Sejarah Sunda I (1956) mencatat beberapa arti yang didasarkan pada berbagai kamus bahasa, yaitu:
A. Bahasa Sansekerta
  1. SUNDA, sopan, bersinar, terang
  2. SUNDA, nama Dewa Wisnu
  3. SUNDA, nama ksatria buta (daitya) dalam cerita Upa Sunda dan Ni Sunda
  4. SUNDA, ksatria kera (wanara) dalam Cerita Ramayana
  5. SUNDA, dari kata Çuddha (= putih)
  6. SUNDA, nama gunung di Bandung Utara
B. Bahasa Kawi
  1. SUNDA, air
  2. SUNDA, tumpukan
  3. SUNDA, pangkat
  4. SUNDA, waspada
C. Bahasa Jawa
  1. SUNDA, penyusun
  2. SUNDA, bersatu
  3. SUNDA, dua (dari arti Candrasangkala)
  4. SUNDA, dari kata Unda (= naik)
  5. SUNDA, daru kata Unda (= terbang)
D. Bahasa Sunda
  1. SUNDA, dari sa-unda dan sa-tunda (= lumbung padi)
  2. SUNDA, dari kata Sonda (= bagus)
  3. SUNDA, dari kata Sonda (= terkenal)
  4. SUNDA, dari kata Sonda (= senang)
  5. SUNDA, dari kata Sonda (= menyenangkan)
  6. SUNDA, dari kata Sonda (= setuju)
  7. SUNDA, dari kata Sundara (= laki-laki tampan)
  8. SUNDA, dari kata Sundara (= nama Dewa Kamajaya)
  9. SUNDA, dari kata Sundari (= perempuan cantik)
  10. SUNDA, indah

Naskah Sunda Kuno

0 comments
Kira-kira kriya apa saja dari kebudayaan Sunda yang saat ini mengalami degradasi nilai, Pa?”
Maaf, untuk “Sunda” di sini, saya batasi pada kebudayaannya di era 1920 ke bawah, Pa.
Mengingat setelah tahun tersebut Sunda telah mengalami kelunturan. Terlebih pada tahun 1928, ketika sumpah pemuda tercetus, dan menyatakan diri sebagai bangsa Indonesia.”
Demikian ungkapan seorang teman ketika kami sedang mencari informasi pada narasumber yang sama. Dia membuat sebuah definisi operasional terhadap istilah “Sunda”. Ya, jika berbicara mengenai Sunda tanpa dibatasi memang akan sangat panjang jadinya. Bisa-bisa sampai menyentuh kawasan “proto sundanic”, yang jika ditelusuri lebih jauh tentunya sangat menarik, tetapi sayang telah banyak “slot” yang hilang.
Sunda yang menurut R. Mamun Atmamihardja dalam bukunya Sejarah Sunda I (1956) mencatat ada sebanyak 25 arti kata Sunda yang didasarkan pada berbagai kamus bahasa, seperti bahasa Sansekerta, bahasa Jawa, dan bahasa Sunda. Dari kekayaan arti kata Sunda itu saja kita dapat menggali “Siapa Sunda itu?”. Salah satu arti kata Sunda yang dalam bahasa Sanksekerta SUNDA itu berasal dari kata Çuddha, yang berarti putih. Hal ini sejalan dengan pendapat Gonda (1973: 345-346), yang menyatakan bahwa pada mulanya kata suddha dalam bahasa Sansekerta diterapkan pada sebuah gunung yang menjulang tinggi di bagian barat Pulau Jawa yang dari jauh tampak putih bercahaya karena tertutup oleh abu yang berasal dari letusan gunung tersebut. Dan, Gunung Sunda itu terletak di sebelah barat Gunung Tangkuban Parahu. Ya, gunung itu terletak di Bandung Utara, seperti arti kata Sunda dalam bahasa Sanksekerta.
Juga sejalan dengan pendapat Rouffaer (1905: 16) yang menyatakan bahwa kata Sunda berasal dari pinjaman kata asing berkebudayaan Hindu, kemungkinan dari akar kata sund atau kata suddha dalam bahasa Sansekerta yang mempunyai pengertian bersinar, terang, putih (Williams, 1872: 1128, Eringa, 1949: 289). Dalam bahasa Jawa Kuno (Kawi) dan bahasa Bali pun terdapat kata sunda, dengan pengertian: bersih, suci, murbi, tak tercela/bernoda, air, tumpukan, pangkat, waspada (Anandakusuma, 1986: 185-186; Mardiwarsito, 1990: 569-570; Winter, 1928: 219).
Dalam bahasa Jawa, Sunda dapat diartikan sebagai penyusun. Hal ini diperkuat dengan adanya prasasti, naskah, dan sejenisnya yang menjadi media adanya budaya tulis yang cukup baik pada masyarakata Sunda. Prasasti Cibadak (1006-1016) yang berdasarkan sejarah Sunda dinilai sebagai prasasti tertua, peninggalan seorang raja Sunda Sri Jaya- bhupati. Di mana dalam prasasti tersebut tersuratlah konsep geografis-etnis dalam budaya Sunda, yaitu dengan ditetapkan Sungai Sang Hyang Tapak sebagai kabuyutan yaitu tempat yang disakralkan untuk ditaati oleh segenap rakyatnya. Salah satu terjemahan kutipan Prasasti Cibadak tersebut adalah :

Selamat, dalam tahun saka 952 bulan Kartika tanggal 12 bagian terang hariyang-Kliwon-ahad wuku Tambir. Inilah saat raja sunda Maharaja Sri Jayabhupati Jayamanahen Wisnumurti samarawijaya Sakalabuana Mandaleswaranindita Harogowardana Wikramotungga-dewa membuat di sebelah timur Sanghyang Tapak dibuat oleh Sri Jayabhupati raja Sunda dan jangan ada yang melanggar ketentuan di sungai ini. Jangan ada yang menangkap ikan di bagian sungai ini mulai dari batas daerah kabuyutan Sanghyang Tapak di bagian hulu ...”
Naskah kuno ”Sanghyang Siksa Kanda ng Karesian” (Tahun 1518 M), yang dikenal pada masa pemerintahan Sang Prabu Siliwangi (Jaya Dewata, Sri Baduga Maharaja, Keukeumbingan Raja Sunu, Sang Pamanah Rasa – 1482 – 1521 M) di kerajaan Pajajaran, terdapat satu kalimat yang mungkin agak asing bagi telinga kita yaitu ”Ngertakeun Bumi Lamba” yang dapat diterjemahkan dengan ”mensejahterakan kehidupan di dunia”. Jadi para leluhur sunda sebenarnya telah mengajarkan kepada kita bahwa salah satu tugas manusia hidup di dunia adalah untuk mensejahterakan seluruh makhluk hidup di dunia ini.
Dari catatan sejarah budaya tersebut, tatar sunda dinilai banyak memiliki warisan kabuyutan dari para leluhur baik berupa hutan lindung yang meliputi gunung dan bukit, situs purbakala dan peninggalan sejarah serta sungai-sungai strategis dan lingkungannya. Para leluhur Sunda telah mengingatkan agar seluruh kabuyutan di Tatar Sunda dilindungi, dijaga kelestariannya sehingga dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan untuk kesejahteraan dan kemakmuran masyarakatnya.
Pesan-pesan para leluhur Sunda tersebut menunjukkan bahwa makna dari kabuyutan memiliki nilai yang tinggi dan strategis serta sangat dihormati oleh masyarakatnya. Pesan moral yang awalnya terbatas hanya untuk masyarakat kerajaan sunda ternyata memiliki nilai yang bersifat universal yang dapat juga dijadikan panutan oleh masyarakat di luar etnis sunda agar kita selalu bersikap arif memperlakukan alam. Karena secara nurani setiap komunitas makhluk hidup termasuk manusia, siapa dan seberapapun kecilnya selalu membutuhkan tatanan kehidupan yang seimbang, selaras dan harmonis.
Menyimak realitas kondisi keempat daya hidup (yang menurut pendapat budayawan WS Rendra, setidaknya harus terdapat tujuh daya hidup yang harus dimiliki oleh sebuah kebudayaan untuk dapat mempertahankan eksistensinya), kebudayaan Sunda menghadapi berbagai bentuk tantangan. Kemampuan beradaptasi kebudayaan Sunda, terutama dalam merespon berbagai tantangan yang muncul, baik dari dalam maupun dari luar dapat dikatakan memperlihatkan tampilan yang kurang begitu menggembirakan. Bahkan, kebudayaan Sunda seperti tidak memiliki daya hidup manakala berhadapan dengan tantangan dari luar. Akibatnya, tidaklah mengherankan bila semakin lama semakin banyak unsur kebudayaan Sunda yang tergilas oleh kebudayaan asing.
Sebagai contoh yang paling jelas adalah bahasa Sunda yang merupakan bahasa komunitas urang Sunda tampak secara eksplisit semakin jarang digunakan oleh pemiliknya sendiri, khususnya para generasi muda Sunda. Lebih memprihatinkan lagi, menggunakan bahasa Sunda dalam komunikasi sehari-hari terkadang diidentikkan dengan “keterbelakangan”, untuk tidak dikatakan primitif. Akibatnya, timbul rasa gengsi pada urang Sunda untuk menggunakan bahasa Sunda dalam pergaulannya sehari-hari. Kemampuan tumbuh dan berkembang kebudayaan Sunda tidak kalah memprihatinkan.
Jangankan berbicara paradigma-paradigma baru, itikad untuk melestarikan apa yang telah dimiliki saja dapat dikatakan sangat lemah. Dalam hal folklor misalnya, menjadi sebuah pertanyaan besar, komunitas Sunda yang sebenarnya kaya dengan folklor, tetapi seberapa jauh upaya yang dilakukan untuk tetap melestarikan folklor tersebut agar tetap “membumi” di masyarakat Sunda.