Thursday, 18 July 2013

Situs Tugu Gede Cengkuk Sukabumi Jawa Barat

0 comments

Situs Tugu Gede Cengkuk

From: oman abdurahman 
Subject: Perjalanan ke Ciptagelar & Cengkuk-
Haturan kang CA, kang Danny, kang Pon, kang Anto, dan sahabat semua,
Bupati Sukabumi (membelakangi kamera) sedang mendengarkan penjelasan situs Cengkuk — with Info Pariwisata Palabuhanratu and Rully B Tedjasukmana.
  1. Pada hari Jum’at-Ahad, 12-14 Oktober 2012, kami melakukan perjalanan ke masyarakat adat Sinarresmi dan Ciptagelar; dan Situs purbakala Tugu Gede, Cengkuk, Cikakak, Kabupaten Sukabumi. Banyak yang kami dapatkan dari perjalanan tsb dan menjadi semacam charger yang hebat bagi kami untuk tetap bersemangat memperjuangkan Indonesia yang lebih baik. Kedua perjalanan dalam satu paket tsb bagi kami sangatlah impresif, dan berikut laporan singkatnya:

 1) Perjalanan ke Kampung Adat Sinarresmi dan Ciptagelar
Perjalanan (lalampahan) ka Ciptagelar sangat berkesan. Perjalanan tsb memang agak dipaksakan, dalam arti saya khususnya, sedang berada dalam bulan2 yang sangat sibuk dengan tugas2 kantor. Namun, saya sudah bertekad untuk menjadikan tawaran (ajakan) dari Miftah beberapa minggu sebelumnya sebagai kesempatan berharga untuk dapat berkunjung ke Sinarresmi dan Ciptagelar, melengkapi pengalaman saya berkunjung ke Kanekes (Baduy dalam) kl 15 tahun yl (tuh pan bedana oge tos 15 taun :)). Miftah adalah seorang anak muda, guru geografi di sebuah SMA di kawasan Bumi Parahiyangan sekaligus penggiat geowisata dari “Geotourism Community”.
Oleh-oleh perjalanan lumayan banyak. Mudah-mudahan sy dapat menuliskannya walau hanya berupa status di FB atau celetukan komentar terhadap status dari peserta yang kemarin ikut dalam rombongan perjalanan, yaitu: Kuke, Martha, Miftah, plus 7 urang siswa SMA, muridna Miftah. Namun, secara umum, pengalaman ke Sinarresmi dan Ciptagelar itu lebih bernuansa perjalanan budaya, khususnya budaya masyarakat adat di Banten pakidulan. Selain itu, minat saya juga terhadap jenis padi-padian (lebih dari 100 jenis) dan juga kayu-kayuan disana yang jumlahnya – menurut sesepuh adat di Sinarresmi – mencapai ratusan (untuk padi-padian sudah dicatat Miftah, yg belum dilakukan adalah mengambil foto dari setiap jenis padi-padian tsb, ini tentu perlu waktu lama).
Di Sinarresmi dan Ciptagelar, nilai-nilai yang paling utama adalah kerukunan hidup, bermitra dengan alam dan sistem leuit sebagai sarana ketahanan pangan, dasar-dasar kebersamaan mereka dan penghormatan terhadap padi (Dewi Sri). Status saya di FB tentang padi dan leuit di Ciptagelar dapat dilihat disini:
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10151191373178291&set=a.449672263290.229744.627503290&type=1&theater
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10151193303603291&set=a.10150747268818291.428779.627503290&type=1&theater
(mohon untuk teman-teman yang sebelumnya sudah melihat status tsb).
Dari respon mitra yang begitu banyak terhadap status tsb, ternyata sistem penghormatan terhadap padi dan leuit yang kita dapatkan dari Ciptagelar menarik perhatian dan masih diminati anak muda. Kang Pon bahkan setengah “menantang” untuk menghidupkan kembali nilai-nilai tsb, tentu saja dengan revitalisasi dan konsep yang disesuaikan dengan kondisi kita yang hidup di perkotaan.
 2. Perjalanan ke Situs Tugu Gede, Cengkuk
Selain ke Sinarresmi dan Ciptagelar, sebetulnya kemarin kami bertiga (saya, Kuke dan Martha) juga menyempatkan diri melihat Situs Tugu Gede Cengkuk (nama singkatnya: Situs Cengkuk); sementara Miftah dan muridnya menghabiskan waktu di pantai. Perjalanan ini pun tak kalah menariknya dan penting untuk dilakukan perjalanan/survei lanjutan, terutama untuk meneliti apa makna situs tsb, dan bagaimana hubungannya dengan tinggalan dan penemuan yang ada saat ini seperti Gn Padang, dll.
Lokasi situs Cengkuk terletak di sebuah lembah di kaki bukit (namanya juga menunjukkan morfologi ini: “cengkuk”) menghadap Gunung Halimun di sebelah utaranya, di Kp Cengkuk, Desa Margalaksana, Kec. Cikakak, Kab. Sukabumi. Ini sebuah lokasi yang sangat menarik pula. Mengapa tidak berlokasi di puncak bukit seperti Gn Padang? Mengapa lokasinya di lembah (walau pun tetap di ketinggian)? Mengapa pula arah yang dipilih persis di hadapan Gn Halimun?
Akses ke lokasi cukupan (tidak buruk, tapi dibilang bagus juga tidak) , dapat dilalui mobil (roda empat) – apalagi motor – hingga ke tempat parkir yang sempit (hanya masuk 2 mobil kecil) kl 300 meter sebelum situs. Jarak dari jalan raya Palabuhanratu-Cisolok ke lokasi parkir tsb sekitar 13 km. Arah jalan menuju lokasi: belok kanan dari Jl Palabuhanratu-Cisolok di Sakawayan, tak jauh setelah lewat Samudera Beach hotel, yaitu ke arah kantor kecamatan Cikakak berlanjut terus hingga kampung Cengkuk. Jalan mendaki melalui perbukitan tempat kami menikmati suguhan pemandangan yang luar biasa indahnya.
Sebenarnya, apa yang kami lihat di Situs Tugu Gede Cengkuk sama dengan yang diberitakan situs-situs/web tentang Cengkuk. Misalnya: batu tugu atau menhir, batu pamandian, batu kursi, batu dakon, batu yang menyerupai meja makan, batu ranjang, dll, sebagaimana dapat disimak di:
http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=281&lang=id
http://www.panoramio.com/photo/60022158
http://iyankusmayadi.multiply.com/video/item/14?&show_interstitial=1&u=%2Fvideo%2Fitem
(jika diperlukan Insya Alloh saya kirimkan foto2 saya sendiri disana)
Namun, ada pengalaman yang menarik, yaitu suasana yang pikabetaheun disana; hujan selintas seakan membilas area situs ketika kami baru saja tiba di lokasi, dan harum bunga Ki Beubeunteuran (?). Selain bunga dan buah pohon Ki Beubeunteuran, kami juga mengenal pohon (dengan buah/bunganya): Kalayar, Gadog, Sempur, dan lainnya.
Pengalaman lain di Cengkuk yang sangat menarik: berkesempatan melihat arca asli semacam arca Dewi Sri. Arca ini – perkiraan saya sj – pantasnya disebut demikian :) . Tapi saya yakin ini arca berjenis kelamin perempuan, ukuran kl 50 cm. Replika arca tsb terlampir (foto aslinya pun ada, Insya Alloh sudah salse dikintunkeun). Berapa umur arca tsb dan bagaimana hubungan arca dengan situs, hingga saat ini sy belum memperoleh keterangan.
Sampai disini dulu ya, Insya Alloh kedepan kita sambung lg.
Salam,
Oman A.
Updated over a year ago · Taken at Cikakak, Palabuhanratu, Kab. Sukabumi
 
Bupati Sukabumi (membelakangi kamera) sedang mendengarkan penjelasan situs Cengkuk — with Info Pariwisata Palabuhanratu and Rully B Tedjasukmana.
Situs temuan baru di Kab. Sukabumi dengan peninggalan dari berbagai zaman
Peta lokasi:
Cengkuk, Situs Terbesar di Indonesia
Temuan benda-benda peninggalan zaman megalitik dan peralatan yang diperkirakan buatan Dinasti Sung dan Ming ( Cina ) di situs Gunung Gede Cengkuk, Kampung Cengkuk, Desa Margalaksana, Kec. Cikakak, Kabupaten Sukabumi, terus berlanjut hingga saat ini. Namun temuan Situs Gunung Gede Cengkuk itu memerlukan penelitian budaya lebih komperhensif dengan evakuasi lahan yang luas.
‘ Upaya penelitian budaya dan perluasan ekskavasi akan terus ditindklanjuti untuk lebih jauh mengenai nilai-nilai budaya maupun asal-usul benda-benda. Karena temuan ini sedikitnya akan membuka tabir sejarah kerajaan Pajajaran di Jawa Barat, ‘ Kata Kepla Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat, Budhyana, Senin (19/12).Selama ini, ekskavasi yang dilakukan baru terbatas bagian permukaan dan arealnya terbagi dalam beberapa bagian. Benda yang ditemukan baru beberapa dari batu-batuan yang diperkirakan berasal dari zaman megalitik.Terhadap temuan tersebut menurut Budhyana, pihaknya berencana menganggarkan dana pada tahun 2006 untuk ekskavasi lanjutan. ‘ Diharapkan dengan anggaran yang tersedia dapat memenuhi dan menata kawasan Situs Cengkuk, terutama pengamanan benda-benda yang sangat kamai khawatirkan akan raib dicuri ‘
Dewa Siwa
Sementara itu, berdasarkan hasil ekskavasi yang dilakukan akhir November hingga pertengahan Desember lalu, ditemukan Arca Dewa Shiwa, yang merupakan bagian dari temuan arca hasil ekskavasi tahun 1992. Temuan berlanjut dengan ditemukannya punden berundak terdiri dari tiga teras, gerabah dan keramik.
Berdasarkan hasil penelitian sementara, Arca Dewa Shiwa dan punden berundak merupakan peninggalan abad ke – 15 masa kerajaan Padjajaran. Sedangkan gerabah dan keramik diperkirakan berasal dari zaman Dinasti Sung dan Ming dari abad 12-15 Masehi.
Kepala Balai Kepurbakalaan dan Nilai Sejarah Tradisional Disbudpar Jabar, Drs. Prama Putra,M.M. mengatakan, temuan berupa arca, gerabah dan keramik awal Desember hingga pertengahan ini merupakan hasil ekskavasi tahap dua yang dilakukan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, serta Seksi Musieum dan Benda Kepurbakalaan Kab. Sukabumi. Sementara temuan sebelumnya(tahap pertama) merupakan hasil ekskavasi Balai Arkeologi Bandung (Balar) yang dipimpin Drs. Lutfi,M.Hum., difasilitasi Balai Pengelolaan Kepurbakalaan, Sejarah dan Nilai Tradisional Disbudpar Jabar
Hingga saat ini, temuan hasil ekskavasi menyebar di areal seluas 4 hektare di Kamp. Cengkuk. ‘Namun, berdasarkan perkiraan luas lebih dari 4 hektare,’ ujarnya.
Situs cengkuk merupakan situs terbesar di Indonesia dan pertama kali ditemukan warga negara Belanda pada tahun 1883. Kemudian, dari tempat tidak jauh dari kawasan temuan pertama, tahun 1992, ditemukan sebuah patung. Temuan tersebut terus berlanjut pada Oktober 2005, yakni sebuah arca.
Sampai saat ini benda-benda yang ditemukan di situs Tugu Gede, Cengkuk, berupa Patung Dewa Shiwa berukuran 30 cm gerbah, dolmen, menhir berukuran 4 meter, yang diduga dijadikan tempat pemujaan. Candi perunggu berukuran mini, batu segi empat yang dijadikan tempat permanndian serta dakon, dan batu berlubang yang diperkirakan dijadikan penumbukan padi. Selain itu, ditemukan gambar lokasi peribadatan yang tertuang dalam batu besar.
Benda-benda peninggalan megalitik tersebut diperkirakan berusia ratusan ribu tahun, sebelum prasejarah. Batu dolmen diperkirakan digunakan untuk tempat penguburan, sementara batu besar yang berisi 10 lubang diperkirakan digunakan untuk tempat penguburan, sementara batu besar yang berisi 10 lubang diperkirakan dijadikan untuk menumbuk padi. (A-87)*** sumber Pikiran Rakyat tanggal 20 Desember 2005
posting by dedisuhendra 
http://www.facebook.com/media/set/?set=a.1134692326649.2022597.1207536018&type=1








  Ayu 'Kuke' Wulandari 14 hours ago   14.10.2012 :: sebelum pulang, Mang Jaya memperlihatkan kesemuanya ini: arca Nyi Pohaci Sanghyang Sri, sepasang Genta Pendeta berhiasan Padma berkepala Vaj'ra, Guci, dan beberapa perkakas lainnya. (Kamera: si Ungu & si Hitam) — with T Bachtiar Geo, Lutfi Yondri, Budi Brahmantyo, Oman Abdurahman, Disparbud Jabar, Sinung Baskoro and Arifin Surya Dwipa Irsyam.
Berdasarkan hasil penelitian sementara, Arca Dewa Shiwa dan punden berundak merupakan peninggalan abad ke – 15 masa kerajaan Padjajaran. Sedangkan gerabah dan keramik diperkirakan berasal dari zaman Dinasti Sung dan Ming dari abad 12-15 Masehi.
About these ads

Tuesday, 16 July 2013

#About^^Me^^

0 comments
PHOTO SESSION

PHOTO SESSION 2

Monday, 15 July 2013

Pondok Halimun, Sukabumi.

0 comments

Pondok Halimun, Sukabumi. Sajian suasana penuh kesejukan di kaki Gunung Gede-Pangrango.

 

Mari Jelajahi Sukabumi,
Jika kita merindukan suasana segar dan dingin khas pegunungan di Sukabumi, tidak ada salahnya untuk datang ke Pondok Halimun, atau yang biasa disingkat PH. Jika ternyata   kita tidak familiar dengan Sukabumi, tidak usah khawatir untuk mencari tahu tempatnya, tinggal ke atas saja….haha (di Sukabumi, untuk masalah arah, orang-orang lebih memilih menyebut ke atas atau ke bawah daripada ke kanan atau ke kiri). Iya, kalau dari kota Sukabumi kita menuju ke atas, atau ke dataran yang lebih tinggi, pasti kita akan menuju ke arah Selabintana dan Pondok Halimun. Untuk ke Pondok Halimun, nanti akan ada petunjuk arah untuk belok ke kiri sebelum kita sampai di ujung Selabintana.
Ada banyak hal menarik yang bisa kita jumpai dan lakukan di pondok halimun ini, tidak hanya melulu menikmati suasana perkebunan teh Goalpara milik PT Perkebunan Nasional VIII Kabupaten Sukabumi atau pergi ke area bumi perkemahannya.
Untuk lebih menjelajahi area pondok halimun ini, akan kita ulas satu per satu spot-spot menarik yang ada. 
Area Pertanian
Seperti tipikal daerah kaki gunung pada umumnya, tanah di area PH ini pastinya juga sangat subur dan kaya akan hasil pertanian. Jika kita datang ke PH, tidak ada salahnya jika kita mampir ke salah satu area pertanian yang ada. Terdapat aneka macam area pertanian dengan hasil buminya disini, seperti Tomat, Cabai, Sawi, dll. Jika sedang musim panen, percayalah, kita pasti dapat membeli hasil panen yang masih segar tersebut dengan harga yang sangat miring dibanding harga pasar. Tentunya hal tersebut memerlukan keahlian pendekatan dari diri kita masing-masing.


Villa Lembah Halimun
Setelah kita melewati gerbang memasuki area pondok halimun, tidak jauh dari situ, di sisi kiri jalan akan terlihat suatu area villa yang memiliki bangunan gerbang unik yang cukup memikat mata.  Villa tersebut bernama villa lembah halimun, suatu area yang terdiri dari banyak bangunan villa. Yang menarik, di bagian depan villa terdapat bangunan seperti koridor seperempat lingkaran berbentuk melengkung (curve), dengan pilar-pilar besarnya, dan berlatarbelakang birunya pegunungan. Di lokasi ini sering kita jumpai orang yang sengaja datang untuk foto-foto, kebanyakan kaum muda. Ada kala serombongan anak muda yang foto rame-rame untuk membuat foto buku tahunan, dan bahkan ada group band lokal yang memilih lokasi ini berfoto dan menjadikannya foto profil dari group band-nya.
                             Villa Lembah Halimun, Pondok Halimun, Sukabumi
                             Area depan villa lembah halimun yang jadi lokasi favorit untuk foto-foto
Mess Kabayan
Setelah anda melalui gerbang retribusi area pondok halimun, tidak jauh dari situ di kanan jalan terdapat sebuah rumah atau pondokan bergaya belanda yang cukup menarik mata. Pondokan tersebut bernama Mess Kabayan, yang juga merupakan suatu pondokan yang dapat disewakan. Dinamakan mess kabayan karena konon dulu merupakan lokasi syuting film kabayan yang kesohor. Kalau gak salah tebak, kayaknya ada juga film sekarang yang ambil lokasi syuting di mess ini…mungkin film kawin kontrak 2 dan film suster keramas. Ayo yang tahu informasinya, benar tidak tebakan saya? Jika kita ke pondok halimun, sempatkanlah sejenak untuk mampir ke mess kabayan ini. Walau tidak menginap, kita bisa hanya sekedar mampir di warung yang ada di seberangnya, minum kopi panas sambil menikmati pemandangan yang ada.

Perkebunan Teh Goalpara
Area pondok halimun ini didominasi oleh perkebunan teh.  Kita akan melintasi jalan aspal yang cukup sempit untuk dua mobil berpapasan, membelah area perkebunan teh yang luas di kiri dan kanan jalan. Di beberapa spot terdapat warung-warung yang menyediakan menu khas seperti jagung bakar, bandrek panas, kopi panas, mie instan, gorengan, dan lain-lain. Sempatkanlah mampir untuk setidaknya menghangatkan badan sambil menikmati sejuk dan segarnya suasana perkebunan teh.


Curug Cibeureum
Curug atau air terjun cibeureum adalah salah satu curug terkenal yang ada di kaki gunung Gede-Pangrango. Untuk menuju ke curug ini kita harus menempuh jarak sekitar 2 – 2.5  km dari Pondok Halimun melalui jalan setapak di hutan Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango. Untuk menuju ke curug Cibeureum selain dari pondok halimun, kita juga dapat melewati jalur di Cibodas, Puncak. Curug Cibeureum terdiri dari tiga curug dengan satu curug utama yang paling besar dan dua curug yang berukuran lebih kecil. Sangat menyenangkan untuk bisa menghabiskan waktu di curug ini, bisa dengan hanya foto-foto, berenang dan berendam di segarnya aliran air sungainya, atau merasakan langsung kucuran air terjun dari atas batu. Curug ini juga merupakan lokasi favorit untuk sejenak melepas lelah jika kita mau melakukan pendakian ke puncak gunung gede atau gunung pangrango.

Curug Cibeureum
Curug atau air terjun cibeureum adalah salah satu curug terkenal yang ada di kaki gunung Gede-Pangrango. Untuk menuju ke curug ini kita harus menempuh jarak sekitar 2 – 2.5  km dari Pondok Halimun melalui jalan setapak di hutan Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango. Untuk menuju ke curug Cibeureum selain dari pondok halimun, kita juga dapat melewati jalur di Cibodas, Puncak. Curug Cibeureum terdiri dari tiga curug dengan satu curug utama yang paling besar dan dua curug yang berukuran lebih kecil. Sangat menyenangkan untuk bisa menghabiskan waktu di curug ini, bisa dengan hanya foto-foto, berenang dan berendam di segarnya aliran air sungainya, atau merasakan langsung kucuran air terjun dari atas batu. Curug ini juga merupakan lokasi favorit untuk sejenak melepas lelah jika kita mau melakukan pendakian ke puncak gunung gede atau gunung pangrango.
Bumi Perkemahan
Di area Pondok Halimun ini terdapat beberapa bumi perkemahan, antara lai bumi perkemahan Elang jawa, bumi perkemahan Cipelang, dan Bumi Perkemahan Pondok Halimun. Area perkemahannya dilalui oleh sungai Cipelang, jadi tidak perlu khawatir untuk masalah air minumnya. Lokasi antara bumi perkemahan ini saling berdekatan dan di area situ terdapat area parkir kendaraan yang luas dengan deretan warung-warung yang menyediakan aneka sajian, khas nya tentu saja jagung bakar dan bandrek panas.
Mess Kabayan
Setelah anda melalui gerbang retribusi area pondok halimun, tidak jauh dari situ di kanan jalan terdapat sebuah rumah atau pondokan bergaya belanda yang cukup menarik mata. Pondokan tersebut bernama Mess Kabayan, yang juga merupakan suatu pondokan yang dapat disewakan. Dinamakan mess kabayan karena konon dulu merupakan lokasi syuting film kabayan yang kesohor. Kalau gak salah tebak, kayaknya ada juga film sekarang yang ambil lokasi syuting di mess ini…mungkin film kawin kontrak 2 dan film suster keramas. Ayo yang tahu informasinya, benar tidak tebakan saya? Jika kita ke pondok halimun, sempatkanlah sejenak untuk mampir ke mess kabayan ini. Walau tidak menginap, kita bisa hanya sekedar mampir di warung yang ada di seberangnya, minum kopi panas sambil menikmati pemandangan yang ada.


                              Mess Kabayan dilihat dari seberang jalan
                              Tampak depan Mess Kabayan
                              Pemandangan kebun teh dilihat dari halaman depan Mess Kabayan
Perkebunan Teh Goalpara
Area pondok halimun ini didominasi oleh perkebunan teh.  Kita akan melintasi jalan aspal yang cukup sempit untuk dua mobil berpapasan, membelah area perkebunan teh yang luas di kiri dan kanan jalan. Di beberapa spot terdapat warung-warung yang menyediakan menu khas seperti jagung bakar, bandrek panas, kopi panas, mie instan, gorengan, dan lain-lain. Sempatkanlah mampir untuk setidaknya menghangatkan badan sambil menikmati sejuk dan segarnya suasana perkebunan teh.
                              Salah satu sudut area perkebunan teh goalpara, pondok halimun, Sukabumi
                              Pemandangan saat daun-daun teh dipetik seluruhnya untuk peremajaan
Bumi Perkemahan
Di area Pondok Halimun ini terdapat beberapa bumi perkemahan, antara lai bumi perkemahan Elang jawa, bumi perkemahan Cipelang, dan Bumi Perkemahan Pondok Halimun. Area perkemahannya dilalui oleh sungai Cipelang, jadi tidak perlu khawatir untuk masalah air minumnya. Lokasi antara bumi perkemahan ini saling berdekatan dan di area situ terdapat area parkir kendaraan yang luas dengan deretan warung-warung yang menyediakan aneka sajian, khas nya tentu saja jagung bakar dan bandrek panas.
                               Deretan warung di area bumi perkemahan Pondok Halimun
                                        Pintu gerbang bumi perkemahan elang jawa
                                       Sungai Cipelang, Pondok Halimun, Sukabumi
                             Pintu masuk bumi perkemahan Pondok Halimun
Di bumi perkemahan pondok halimun ini terdapat beberapa penginapan, yang bisa jadi alternatif menginap selain camping, dan juga terdapat playing ground untuk anak-anak di sekitar aliran sungai Cipelang. Di area ini yang menjadi ciri khas adalah banyaknya batu gunung besar yang terserak di sepanjang jalur bumi perkemahan.
                             Jalan setapak di bumi perkemahan Pondok Halimun
                              Deretan batu gunung yang berserakan di area bumi perkemahan pondok halimun
                              Deretan batu di bumi perkemahan pondok halimun dilihat dari ketinggian
Curug Cibeureum
Curug atau air terjun cibeureum adalah salah satu curug terkenal yang ada di kaki gunung Gede-Pangrango. Untuk menuju ke curug ini kita harus menempuh jarak sekitar 2 – 2.5  km dari Pondok Halimun melalui jalan setapak di hutan Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango. Untuk menuju ke curug Cibeureum selain dari pondok halimun, kita juga dapat melewati jalur di Cibodas, Puncak. Curug Cibeureum terdiri dari tiga curug dengan satu curug utama yang paling besar dan dua curug yang berukuran lebih kecil. Sangat menyenangkan untuk bisa menghabiskan waktu di curug ini, bisa dengan hanya foto-foto, berenang dan berendam di segarnya aliran air sungainya, atau merasakan langsung kucuran air terjun dari atas batu. Curug ini juga merupakan lokasi favorit untuk sejenak melepas lelah jika kita mau melakukan pendakian ke puncak gunung gede atau gunung pangrango.
                           Rombongan pendaki gunung berfoto dengan background curug Cibeureum
                             Beberapa air terjun kecil di area Curug Cibeureum
Itulah beberapa spot menarik yang dapat kita jumpai di area Pondok Halimun, Sukabumi. Menarik bukan? Tidak ada salahnya kita menjelajahinya, baik itu sendiri, dengan keluarga, dengan kekasih atau dengan teman-teman. Untuk tiket masuknya, mulai pertengahan tahun 2011 ini sudah memakai satu harga untuk keseluruhan akses tempat wisata, yang dibayarkan saat di pintu masuk kawasan pondok halimun.

Selamat menjelajahi Pondok Halimun, temukan moment berhargamu dan have a nice fun


















 

Friday, 12 July 2013

Masjid Agung Sukabumi

0 comments

Mengintip Bagian Dalam Masjid Agung Sukabumi

Sore itu, 1 Juni 2013, entah kenapa saya penasaran pengen motret-motret di kisaran Masjid Agung Sukabumi yang sedang direnovasi. Mungkin karena beberapa saat sebelumnya saya membaca sedikit pembahasan tentang masjid agung ini di group facebook “Sukabumi Facebook”.
Sebelumnya saya juga sempat membaca salah satu artikel di media online yang menyebutkan bahwa target pembangunan masjid ini selesai di awal Mei 2013, dan gak tau kenapa bisa molor dari target tersebut. Berikut link artikel nya http://www.republika.co.id/berita/nasional/jawa-barat-nasional/13/04/15/mlajwz-pembangunan-masjid-agung-kota-sukabumi-rampung-mei
Niat awal saya adalah kembali memotret masjid ini saat blue hour, seperti yang pernah saya lakukan beberapa waktu lalu. Saat sampai di kisaran taman di halaman depan masjid agung, saya coba cari posisi. Begitu tripod tertancap dan siap untuk memotret, tiba-tiba datang anak-anak ABG dari komunitas Suffle yang berkumpul untuk bersuffle ria tepat di depan saya berdiri. bocor deh. Akhirnya saya lepas kamera dari tripod, jepret sekali, dan pindah lokasi lain.

 Saya bergeser agak ke sisi kiri halaman masjid agung, di area parkir mobil, dengan harapan bisa memotret full bangunan masjid ini. Tetapi apa daya, lensa saya kurang lebar, dan dengan sedikit frustasi saya jepret membabi buta setiap sudut masjid untuk “dijahit” kemudian di photoshop. Setelah jepret kurang lebih 30an frame, ternyata setting kamera saya tadi salah, sehingga warna langit birunya berbeda-beda, dan saya cukup malas untuk memotret ulang. Alhasil jahitan saya gagal.

 

Setidaknya, dari dua foto ancur di atas, cukup terlihat bagian luar masjid yang belum selesai pengerjaannya, terutama di menara-menara samping kubah utamanya.

Penasaran di bagian dalamnya, saya pun memutuskan untuk masuk ke dalam masjid dan mengambil beberapa jepretan.

Ada yang menarik perhatian saya, gagang pintu di setiap pintu-pintu yang ada berbentuk kujang, senjata tradisional masyarakat Sunda. Unik dan bagus sekali menurut saya.

 Di beberapa bagian jendela, terdapat ornamen-ornamen kaca jeruk yang menghiasi, yang terlihat indah saat terkena pantulan cahaya mentari dari luar.


Di bagian tengah masjid, di bawah kubah besar utama, terdapat lampu gantung besar yang bentuknya lagi-lagi sangat unik. Terkesan klasik dan berseni tinggi menurut saya yang tidak mengerti akan seni ini.
Saya memotret dari lantai dua masjid, yang mana di lantai ini masih terlihat tiang-tiang besi dan bambu yang masih digunakan untuk proses renovasi masjid ini.



Di bagian bawah, tampak membentang karpet merah tebal dan tampak utuh menutupi seluruh lantai dengan corak yang bagus. Di beberapa bagian karpet ini, terdapat corak logo-logo tertentu yang menurut saya adalah logo sponsor yang membantu proses pembangunan masjid ini. Saya tidak memotret logo-logo tersebut, anda dapat melihat sendiri nantinya. hehe

Terlepas dari selesai atau belumnya renovasi masjid agung kota Sukabumi ini, ternyata di lantai dasarnya sudah bisa digunakan untuk sholat berjamaah dan kegiatan-kegiatan agama lainnya. Semoga, saat selesai nanti, lantai-lantai di masjid ini akan penuh terisi oleh jemaah yang melakukan kegiatan-kegiatan agama Islam, baik yang wajib maupun shunah. Karena itulah menurut saya tujuan utama direnovasinya masjid agung kota Sukabumi ini.