Jumat, 20 Juni 2014

Situs Megalitikum Tenjolaya Girang Sukabumi

Membaca Situs Megalitikum Tenjolaya Girang Sukabumi (Batu Kujang)

 Situs Megalit Tenjolaya Girang (Batu Kujang)
            Situs Megalit Tenjolaya Girang atau masyarakat umum lebih akrab menyebutnya situs batu Jolang atau batu Kujang, terletak tepat di kaki gunung Salak tepatnya di kampung Tenjolaya Girang Desa Cisaat Kec. Cicurug Kab. Sukabumi Jawa Barat, secara astronomis terletak di 6  45 dan 106  44’ 39” BT. Area situs dibatasi aliran Sungai Cisaat disebelah timur sebelah utara berupa lahan pertanian dan Gunung Salak di sebelah selatan merupakan pertemuan sungai Cisaat dan sungai Cileueur, disebelah barat areal pesawahan, untuk mencapai situs ini kendaraan roda empat hanya mampu mencapai kampung terdekat yaitu kampung Tenjolaya, selanjutnya perjalanan harus ditempuh dengan berjalan kaki atau kendaraan roda dua namun jika menggunakan kendaraan roda dua akan terasa berat karena rute yang ditempuh adalah jalanan berbatu dan licin serta jalan setapak, udara diarea situs terasa sejuk dan cenderung dingin dikarenakan posisi situs ini adalah sekitar 800 M diatas permukaan laut, areas situs diperkirakan memiliki luas 4000M²
            Kondisi situs ini sudah ditata sebagai situs purbakala yang dilindungi dan dikelola oleh Propinsi Jawa Barat, dinas kebudayaan dan pariwisata balai pengelolaan kepurbakalaan sejarah .dan nilai tradisional, Pada situs batu kujang ini terdapat beberapa batu menhir dan dolmen, yang tersusun pada tiga punden beruundak, jika dilihat dari posisi situs, bisa disimpulkan pintu gerbang situs berada di selatan ditandai oleh dua buah batu besar menyerupai pintu gerbang dengan beberpa batu batu besar yang saling menumpuk, ditahap pertama terdapat beberpa tumpukan batu dolmen kecil dan manhir manhir kecil yang membentuk seperti kumpulan kujang (Batu Kujang 2) dan terdapat juga sebuah kolam kecil, di tahap kedua terdapat dua tumpukan batu dolmen  yang lebih besar dari tahap pertama, di tahap ketiga terdapat sebuah batu dolmen yang pipih berbentuk seperti kujang dengan ukuran tinggi sekitar 200 Cm dan lebar 50 Cm. di dekatnya terdapat beberpa dolmen dan mahir kecil serta terdapat pula batu Jolang yang berbentuk seperti mangkok raksasa untuk menampung air, sekitar 4 meter dari batu yang berbentuk seperti kujang, bertumpuk pula beberapa dolmen-dolmen kecil yang di tengahnya terdapat beberpa batu manhir, jika dilihat batu-batu tersebut seperti membentuk sebuah kuburan. Didekat pintu masuk terdapat pua beberpa manhir, dan diluar gerbang ada sebuah dolmen dan menhir yang berbentuk seperti kuburan.
            Situs ini dikelola oleh tiga orang yang saling terikat ikatan keluarga yaitu abah omo sebagai kuncen pertama dari situs tersebut, yang sekarang digantikan oleh anaknya yaitu pak Wawan dan dibantu oleh istrinya, menurut pak Wawan penelitian lebih rinci mengenai Situs ini belum pernah dilakukan oleh badan arkeologi hanya survey-survey saja yang pernah dilakukan jadi pemaparan mengenai usia batu belum bisa di paparkan secara gamblang, hanya menurut survey usia batu diperkirakan 2000 tahun sebelum masehi, lebih tua dari batu tulis yang berada di Bogor, masih minimnya catatan mengenai batu ini juga mengakibatkan minimnya kunjungan dari masyarakat umum, pelajar, mahasiswa atau bahkan peneliti dalam satu bulan rata-rata pengunjung yang datang hanya sekitar 50 orang itu juga didominasi oleh orang-orang yang berniat untuk ziarah karena mereka mengeramatkan wilayah situs ini, menurut para peziarah situs ini adalah peninggalan raja pajajaran yaitu prabu siliwangi. Bagi mereka yang mengeramatkan wilayah situs ini mereka berpendapat bahwa raja pajajaran pernah berdiam ditempat ini atau sering disebut patilasan,
            Dilansir dari Kalangsunda.net kisah mengenai situs ini adalah, dahulu kala di kaki gunung Salak tersebutlah sebuah padepokan yang dihuni oleh puluhan resi, selain tempat tinggal, padepokan ini juga menjadi tempat para pembesar di kerajaan Paran Siliwangi (Cikal bakal kerajaan Tarauma Negara dan Padjajaran) meminta masukan dan nasehat tentang urusan Negara. Suatu ketika para resi kedatangan tamu pemimpin para Sang Hyang yaitu Sang Hyang Nagandini, Sang Hyang Nagandini membawa tiga bayi mungil, Nagandini bermaksud menitipkan ketiga anaknya itu untuk dididik oleh para Resi yang bijaksana.
            Para Resi menerima permintaan dari Sanghyang Nagandini kemudian memberikan nama kepada ketiga anak tersebut yaitu Taji Malela, Surya Kencana, dan Balung Tunggal, kelak ketiga anak itu akan menurunkan raja-raja yang berkuasa di Padjajaran sementara Sang Hyang Nagandini meninggalkan monumen pahatan kujang bagi ketiga anaknya, para resi pun membuat batu Jolang untuk memandikan anak-anak tersebut
            Hingga saat ini tidak banyak bukti historis yang bisa disajikan baik pemerintah dinas pariwisata Sukabumi atau para arkeolog.
Pembacaan Situs Tenjolaya Girang
            Menurut Jacob Sumardjo Tritangtu atau azas kesatuan tiga merupakan azas dasar masyrakat sunda lama, azas demikian itu bukan hanya terdapat di masyrakat sunda tetapi juga di Minangkabau, Melayu, Sawu, Batak, Itulah pandangan dunia masyarakat peladang. Azas tritangtu ini mendasari semua cara berpikir masyarakat dalam memamknai duniannya, cara berpikir, aktivitas dan karya-karya budayannya disusun dalam hubungan tritangtu yang dapat menjelaskan makna kausalitas keberadaan.
            Seperti dalam situs Tenjolaya Girang yang dibangun oleh masyrakat sunda lampau yang sudah menjadi masyrakat peladang dimasanya, hal tersebut bisa dilihat dari letak geografis situs, yang berada dilembah diantara bukit-bukit, bukit-bukit ini dijadkan sebagai tempat menanam kebutuhan sehari-hari seperti sayur-sayuran dan buah-buahan,  
            Situs Ini pun diapait oleh dua suangai yang mengutkan situs ini sebagai kabuyutan yaitu sungai Cileueur dan Sungai Cisaat, dari wilayah masuk situs ini terdapat dipertemuan sungai tersebut ditandai oleh dua batu basar yang menyerupai gerbang kemudaian masuk kedalam area situs yang sudah membentuk tiga tahapan/umpkan di tahapan pertama terletak beberapa batu mahir, dan batu dolmen yang di sebut warga sebagai batu kujang dua, di ingkat kedua didominasi oleh batu manhir, dengan yang memiliki dolmen kecil ditengahnya, di tingkat ketiga terletak batu dolmen yang besar yaitu batu kujang satu, dan beberpa menhir kecil serta batu dolmen yang ditidurkan, dan juga ada batu jolang yang bebentuk seperti mangkuk.

Peta Situs Megalit Tenjolaya Girang
            Tiga Umpakan atau tahapan dalam situs ini sudah menggambarkan tahap satu (paling bawah) adalah rama, tahap kedua (ditengah) adalah ratu dan tahap ketiga (paling atas) adalah resi, di tandai dengan batu-batu yang ada ditahapan-tahapan tersebut
Situs Tenjolaya Girang Komplek Batu Kujang
2. Ratu
1. Resi
3. Rama
 


Situs Tenjolaya Girang Keseluruhan
1.      Batu Kujang    (Bawah / Bumi)
2.      Batu Korsi (Tengah / Bumi )
3.      Batu Garuda Mupuk (Atas / Langit)
Batu yang terletak di tahap 1 komplek Situs Tenjolaya Girang (Batu Kujang)
            Gerbang
Batu Laki-laki
Batu Laki-laki
Batu Perempuan
 


Batu Kujang Dua
Tampak Depan                                                Tampak Samping


           
Batu Laki-Laki
Batu Laki-Laki
Batu Perempuan
 


            Di Batu Kujang dua ada posisi Perempuan yang dilaki-lakikan
            Ditahap paling atas di komplek situs ini, terdapat batu kujang satu atau batu Manhir yang berbentuk kujang, dengan beberapa manhir yang diposisikan tertidur, menyerupai tempat duduk diantara batu kujang ini, jika dilihat dengan seksama posisinya, dari batu-batu ini menyimbolkan tempat pemujaan pada masa lampau, dengan batu kujang sebaga objek pemujaannya, batu-batu mahhir yang ditiudrkan sebagai tempat duduknya dan Batu Jolang yang berbentuk seperti mangkuk sebagai penyimpanan air suci, atau tempat untuk membasuh diri sebelum melaksanakan pemujaan seperti berwudhu dalam agama islam.
             
Batu Kujang satu sebagai batu perempuan yang dilaki-lakikan posisinya
                                                           
 


                                                          
Batu manhir yang berada di samping Batu Kujang merupakan batu laki-laki yang diperempuankan posisinya
                                                          
                                                                                          
Tiga buah batu Manhir yang berada di samping batu kujang  memiliki ukuran yang lebih besar batu laki-laki ini diposisikan menjadi batu perempuan.
Batu Jolang yang berbentuk seperti mangkuk yang berisi air di tengahnya merupakan batu simbol perempuan letaknya ada di depan batu kujang.
 


            Komplek batu kujang tahap 1 sebagai resi atau sebagai dunia atas (Langit), memiliki komposisi batu yang lebih beragam, sebagai tempat paling tinggi dalam komlpek ini, batu-batu ini di khususkan untuk pemujaan , dilihat dari bentuk batunya dan pemosisianya yang menjadi paradok adalah banyaknya pemosisian batu perempuan yang dijadikan batu laki-laki sebagai bentuk kontaradiksi atau penyatuan, namun akan menciptkana nilai yang berbeda dari paradoks tersebut, menurut Jacob Sumardjo konsep teritangtu pada dasarnya adalah perkawinan pasangan oposisu segala hal, pasangan oposisi dasar adalah adalah pembagian laki-laki dan perempuan perkawinan keduanya menghasilakan lahirnya eksistenti ketiga yaitu anak, anak ini merupakan dunia abivalen, mengandung unsur laki-laki dan perempuan  ini lah dunia tengah yang berfungsi medium dari dua oposisi, konsep tri tangtu ini terbentuk di Situs Batu Kujang ini, dengan banyaknya proses pengawinan batu perempuan menjadi batu laki-laki, ini adalah pembentukan dunia tengah atau dunia keseimbangan, keseimbangan antara dunia atas dan dunia bawah dunia tengah yaitu dunia manusia.   
            Komposisi batu di komplek batu kujang ini memang digunakan orang-orang masa lampau untuk melakukan pemujaan, dan jika kita menuju ke utara ke gunung salak kita akan menemukan beberapa tumpukan batu yang merupakan runtutan dari komplek situs megalit tenjolaya girang, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menguak rahasia di komlplek situs ini, karena masih banyak batu-batu terkubur yang bersatu dengan tanaman-tanaman warga yang masih bisa dibaca keberadaannya.
Daftar Pustaka :
Sumardjo, Jacob. 2011, Sunda Pola Rasionalitas Budaya, Bandung: Kelir
www.disparbud.jabarprov.go.id



  • Stumble This
  • Fav This With Technorati
  • Add To Del.icio.us
  • Digg This
  • Add To Facebook
  • Add To Yahoo

0 komentar:

Posting Komentar