Senin, 23 Februari 2015

apakah orang di jateng&jatim adalah sub-suku Bangsa Sunda?......

Dayeuhluhur, akulturasi Sunda Pajajaran dan Jawa Mataram

II. KILASAN SEJARAH DAN SILSILAH RAJA-RAJA
DI TANAH SUNDA DAN JAWA
Dari berbagai sumber buku-buku sejarah maupun naskah dan file dalam blog internet utamanya ulasan pada wikipedia, kami berupaya merunut sejarah dan silsilah raja-raja di tanah sunda maupun jawa secara runtut dan komprehensif dan kami sajikan melalui alur chart periodik dan melalui skema silsilah agar lebih skematik tidak naratif semata yang menjenuhkan.
Baik chart maupun skema silsilah kami awali dari tahun 150 Masehi dekade kerajaan Salakanegara, Tarumanegara, Sunda, Galuh, Pajajaran, Cirebon dan Banten di tanah Sunda. Tanah Jawa kami awali dari Mataram Hindu yang didirikan oleh Sanjaya Haris Dharma (Rakeyan Jamri) yang berasal dan berkaitan dengan Sunda maupun Galuh, ia tokoh fenomenal sepanjang sejarah, sebagai Taraju Jawa Dwipa Maharaja di 3 (tiga) negara sekaligus di Pulau Jawa; Raja Sunda, Raja Galuh dan Raja Mataram Hindu di Jawa Tengah. Di tanah Jawa kami tampilkan Mataram Hindu, pralaya Mataram I (van Bamelen), Pralaya Mataram II, Kahuripan-Kediri, Singasari-Tumapel, Majapahit, Demak Bintoro, Pajang, Mataram Islam, Perjanjian Giyanti (Surakarta-Yogyakarta), Perjanjian Salatiga (Surakarta-Mangkunegaran), Serbuan Inggris (Yogyakarta-Pakualaman).
Kerajaan di Tanah Jawa dan Sunda saling berkaitan, Sanjaya berdarah sunda-jawa, Raden Wijaya pendiri Majapahit ayahnya dari Galuh ibunya keturunan Singosari (Ken Arok). Kerajaan di Pulau Jawa secara historis memiliki hubungan darah melalui perkawinan satu sama lain, biasanya untuk mendapatkan permaisuri lebih dipilih putri raja dari kerajaan lain. Namun demikian perpecahan justru sering terjadi pula akibat banyaknya keturunan raja karena banyaknya pula istri-istri raja. Permaisuri raja bisa hanya satu bisa pula dua, permaisuri utama biasanya bergelar Ratu Wetan dan permaisuri kedua bergelar Ratu Kilen, sedangkan selir jumlahnya bisa sangat banyak jumlahnya, jaman hindu budha bisa mencapai 40 selir, jaman Islam awal hanya 6 selir namun seringkali disubstitusi (yang dicerai diganti yang baru). Umur panjang para raja kadang menjadi nilai postif dalam menopang kejayaan kerajaan, namun kadang menjadi masalah ketika putra mahkota berulah baik berebut wanita cantik ataupun berebut pengaruh sehingga timbul perselisihan antara putra mahkota dan sang raja dan putra mahkota dengan putra raja yang lain.
Perang besar banyak diawali akibat perselingkuhan dan perebutan antar anak-anak raja. Perang besar jenis ini terjadi saat Purbasora mengkudeta Bratasena di kerajaan Galuh. Bratasena adalah raja Galuh ke 3 menggantikan ayahnya Amara Mandiminyak (putra ke 3 raja Wretikendayun pendiri Galuh) yang menjadi raja karena ia tampan dibandingkan kakaknya yang cacat (kakak pertama sempak waja-ompong, kakak kedua Jantaka cacat hernia). Purbasora anak yuridis sempakwaja yang merasa sebagai pewaris tahta dari seharusnya ayahnya sebagai anak pertama Wretikendayun, ia tampan karena sesungguhnya ia anak biologis dari Mandiminyak yang selingkuh dengan istri dari Sempakwaja kakaknya.
Perang besar kedua terjadi di Sunda saat perseteruan Siyung Wanara (Ciungwanara) dengan Arya Bangah, hal mana diawali oleh perilaku selingkuh ayahnya Arya Bangah, Prabu Tamperan Barmawijaya Raja Sunda atas Dewi Pangreyep istri Raja galuh Permana Dikusumah yang lebih rajin bertapa. Cinta buta Tamperan dan kesepiannya Dewi Pangreyep yang terlalu sering ditinggal bertapa membuahkan anak biologis Arya Bangah dan memicu Tamperan menjadi haus kekuasan dengan mengutus pembunuh menghabisi Permana Dikusumah di pertapaan, untuk menghilangkan jejak sang pembunuh pun dihabisi Tamperan, akhirnya ia menguasai Sunda dan galuh serta 2 istri Permana Dikusumah. Siyung Wanara anak Permanadikusumah dari istri pertama Dewi Naganingrum saat dewasa membongkar kasus ini dan memerangi ayah tirinya dan kakaknya arya Bangah, setelah Pangreyep dan Tamperan terbunuh, Arya bangah minta Bantuan Sanjaya Raja Mataram yang juga ayah dari Tamperan, sehingga Perang besar tak terelakan. Perang ini berakhir setelah seluruh sesepuh Sunda-Galuh berekonsiliasi, Arya Bangah dan Ciungwanara keduanya dinikahkan dengan kakak adik putri buyut Resi Demuwan (Kencanasari dan Kencanawangi) dan Arya Bangah jadi Raja Sunda, Ciungwanara (Prabu Surotama) jadi Raja Galuh.
Tragedi perang selanjutnya yang dampaknya masih terasa sampai sekarang sehingga menimbulkan kurang harmonisnya hubungan Jawa dengan Sunda adalah tragedi Perang Bubat, diawali jatuh hatinya Raja Besar Majapahit Prabu Hayam Wuruk kepada Dyah Pitaloka putri Raja Pajajaran Prabu Linggabumi, gayung bersambut guna menyambung tali darah dimana pendiri Majapahit Raden Wiajaya (Jaka Sesuruh) juga putra dari putra mahkota Raja Sunda Jaya Dharma yang meninggal masih muda, Prabu Linggabuana, sang Ratu dan sedikit prajurit pengawal menghantarkan Dyah Pitaloka ke Majapahit, saat sampai desa Bubat Mahapatih Gadjahmada yang berambisi menyatukan seluruh Nusantara di bawah Majapahit menjadikan kondisi ini sebagai kesempatan emas untuk menundukan Pajajaran yang selama ini sangat sulit untuk ditaklukan, sehingga meminta rombongan raja Pajajaran ini menjadi bukan menyerahkan calon pengantin tetapi menundukan diri dan kerajaan di bawah Majapahit dan memberikan putri persembahan kepada Maharaja Majapahit, kelicikan ini ditolak secara ksatria oleh Prabu Linggabumi, akhirnya perang tak seimbang terjadi, seluruh rombongan tewas dibantai pasukan Gadjahmada, Hayam Wuruk merasa menyesal, Gadjahmada malu dan mengasingkan diri, Dampak tragedi ini memunculkan kebencian yang sangat mendalam etnis Sunda sampai saat ini, jika kita ke kota di Jawa Tengah maupun Jawa Timur masih ada jalan dengan nama jalan Siliwangi misalnya, namun di Jawa Barat tidak ada jalan Majapahit, Hayam Wuruk apalagi jalan Gadjahmada kecuali di Jakarta. Sudah lama ada larangan perempuan Sunda menikah dengan lelaki Jawa akibat tragedi bubat Dyah Pitaloka, sebaliknya ada larangan wanita Jawa menikah dengan lelaki Sunda karena akan cepat jadi janda sebagaiman ibunya Raden Wijaya, Dyah Lembu Tal yang ditinggal mati muda suaminya putra mahkota Sunda Jayadharma dan terlunta-lunta harus kembali ke tanah Jawa berstatus janda anak 1.
Dari silsilah raja raja tanah sunda dan Jawa ini baru kita dapat memperoleh informasi siapa Arya Gagak Ngampar pendiri Dayeuhluhur, siapa Wirapraja, Apa hubungan Dayeuhluhur dengan tragedy perang Ciancang Ciamis, Siapa Ngabehi Wiradika I III, kapan ia ada, kenapa wilayah eks Dayeuhluhur-Majenang-Sidareja didiami etnis Jawa dan Sunda, kapan Dayeuhluhur dibawah kekuasaan Galuh-Kawali, Kapan sisi Barat Dayeuhluhur utamanya Madura menjadi bagian dari Kab.Imbanegara-Ciamis, Kenapa batas Kab.Cilacap sisi barat itu sungai Cijolang, kenapa Dayeuhluhur tidak menjadi bagian dari Ciamis dan Jawa Barat??? Pada akhir penelusuran kami didapatkan bahwa Dayeuhluhur adalah bagian dari Pasirluhur dipimpin oleh keturunan Pamanah Rasa (Siliwangi saat blm menjadi raja, dari ibu Dewi Ambet Kasih) yang bernama Arya Banyak Ngampar (adik Arya Banyak Cotro/Kamandaka) alias Arya Gagak Ngampar alias Panembahan Haur, sampai dengan turunan ke-3, saat transisis keturunan ke-2 (Candi Kuning) beralih ke keturunan ke-3 (Candilaras)dibawah kekuasaan Demak Bintoro, saat akhir kekuasaan keturunan ke-3 dimana Demak Bintoro melemah dan digantikan Pajang, Dayeuhluhur diekspansi Galuh Pakuan Kawali dalam jangka waktu lama, sampai dengan Panembahan Senopati Raja Mataram menaklukan Galuh Pakuan Kawali, Dayeuhluhur dihidupkan lagi sebagai kabupaten bagian dari Blangkulon Mataram, ditunjuk keturunan ke-5 /Kai Arsagati (keturunan ke-4 menjadi ulama besar/ Kihadeg Cisagu dan Kihadeg Ciluhur) masa Mataram ini sampai dengan 7 (ke 6 : Kyai Ngabehi Raksagati, ke 7 : Kyai Ngabehi Raksapraja), Saat amangkurat II berkuasa di Kartasura, dari selir lahir Ngabehi Wirapraja menggantikan Raksapraja, Wirapraja membumihanguskan Ciancang Ciamis, namun akhirnya terbunuh oleh Belanda, ymt kembali dikendalikan Raksapraja s/d anak Wirapraja dewasa, turun temurun yaitu Wiradika I s/d Wiradika III (Tumenggung Prawiranegara) th 1831 Dayeuhluhur dibubarkan Belanda karena keterlibatan Wiradika III membela P.Diponegoro saat perang Jawa II.
  • Stumble This
  • Fav This With Technorati
  • Add To Del.icio.us
  • Digg This
  • Add To Facebook
  • Add To Yahoo

0 komentar:

Posting Komentar